Aceh Utara – Hingga memasuki hari ke-43 pascabencana banjir, layanan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Pase, di Desa Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, masih belum kembali berfungsi.
Kondisi ini membuat sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara maupun tetangga karena belum dapat kembali menempati rumah mereka secara layak.
Air bersih yang menjadi kebutuhan paling mendasar untuk memasak, mandi, dan keperluan sehari-hari hingga kini belum juga mengalir. Akibatnya, aktivitas warga lumpuh dan kehidupan pascabencana terasa semakin berat.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Alue Bili Geulumpang Zulfikar mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambannya penanganan air bersih oleh pihak terkait. Ia menegaskan bahwa desanya tidak berada di wilayah terisolir.
“Desa kami tidak terisolir, bahkan sangat dekat dengan jalan lintas. Tapi kehidupan kami seperti tinggal ratusan kilometer ke dalam. Desa-desa lain di Baktiya air PDAM-nya sudah aktif kembali, meskipun dengan sistem pembagian. Sementara desa kami, sampai hari ini air belum pernah hidup sejak banjir kemarin,” ungkapnya.
Lebih lanjut, warga juga menyebutkan adanya pipa PDAM yang bocor pascabanjir. Namun hingga kini belum terlihat adanya pihak PDAM Aceh Utara yang turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan maupun perbaikan.
“Ada pipa yang bocor, tapi belum ada satu pun pihak terkait yang datang melihat kondisi di lapangan. Ini yang membuat kami sangat kecewa. Penanganannya terasa sangat lambat,” tambahnya.
Masyarakat Alue Bili Geulumpang menyatakan kekecewaan mendalam kepada PDAM Aceh Utara dan berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Mereka secara khusus memohon kepada Bupati Aceh Utara agar segera memberikan arahan atau teguran kepada pihak terkait.

” Kami mohon kepada Bupati Aceh Utara untuk segera turun tangan. Kami tidak menuntut kondisi yang sempurna, setidaknya jika air PDAM kembali normal, kami sudah sangat bersyukur. Tanpa air, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar warga.
Warga menilai lambannya proses pemulihan air bersih ini mencerminkan kurangnya keseriusan dalam penanganan pascabencana, terutama terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Hingga berita ini diterbitkan, warga Alue Bili Geulumpang masih menunggu kepastian dan tindakan nyata agar air bersih kembali mengalir dan kehidupan dapat berangsur pulih.











